PAUDSD KebunUncategorized

Pemeriksaan Otak dan Pola Asuh: Cara Kerja Neuroparenting dalam Membentuk Karakter Anak

Jonggol, Jawa Barat – Di tengah maraknya pembahasan pola asuh modern, konsep neuroparenting semakin banyak diperbincangkan. Dalam sebuah dialog di kanal YouTube milik Nikita Willy, praktisi neuroparenting Aisyah Dahlan menjelaskan bahwa memahami cara kerja otak anak adalah kunci utama dalam mendidik mereka.

Menurutnya, pola asuh tidak bisa dilepaskan dari ilmu tentang otak dan sistem saraf.

“Karena kita mengasuh manusia, kita harus tahu cara kerja otaknya manusia. Dalam proses tumbuh kembang, semuanya berkaitan dengan otak,” jelas Aisyah Dahlan.

Watak Anak: Bawaan Lahir yang Dipengaruhi Lingkungan

Salah satu hal penting yang sering disalahpahami orang tua adalah tentang watak anak. Banyak yang mengira sepenuhnya dibentuk lingkungan, padahal tidak demikian.

“Watak itu program bawaan. Laki-laki, perempuan, watak, dan bakat itu sudah ada dari sananya. Nanti lingkungan yang ikut mengukirnya,” ungkapnya.

Artinya, setiap anak sudah membawa “program dasar” sejak lahir. Tugas orang tua adalah mengenali dan mengarahkan, bukan memaksakan. Ketika orang tua memahami hal ini, pendekatan dalam mendidik anak akan menjadi lebih tepat dan tidak seragam.

Cara Otak Menyimpan Memori Anak

Dalam penjelasannya, Aisyah Dahlan menggambarkan bahwa otak anak bekerja seperti jaringan yang saling terhubung.

“Di otak manusia ada sekitar 100 miliar neuron. Setiap pengalaman akan tersambung menjadi memori. Kalau peristiwa itu diulang, sambungannya makin kuat,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa emosi memiliki peran besar dalam memperkuat ingatan.

“Otak sangat mengingat hal yang ‘sangat’, sangat senang, sangat sedih, sangat marah. Itu seperti lem yang sangat kuat di memori,” katanya.

Inilah sebabnya, pengalaman emosional—baik positif maupun negatif—akan sangat membekas pada anak.

Pentingnya Meminta Maaf Setelah Membentak Anak

Kesalahan orang tua seperti membentak anak sering terjadi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana memperbaikinya.

“Kalau kita khilaf membentak anak, segera istigfar dan minta maaf. Lem emosi negatif itu akan berhenti ketika ada proses memaafkan,” ujar Aisyah Dahlan.

Ia menegaskan bahwa tanpa penjelasan, anak hanya akan menyimpan memori buruk.

“Kalau habis marah tidak dijelaskan, yang diingat anak hanya ‘ibuku jahat’. Tidak ada makna baru di situ,” tambahnya.

Karena itu, setelah emosi mereda, orang tua perlu memberikan penjelasan agar anak memahami alasan di balik sikap orang tua.

Konsep “5 Baterai Kasih Sayang” pada Anak

Salah satu konsep yang menarik dalam neuroparenting adalah teori lima baterai kasih sayang. Menurut Aisyah Dahlan, anak terutama di bawah usia 5 tahun membutuhkan “pengisian” setiap hari.

“Anak di bawah 5 tahun itu setiap hari harus diisi lima baterai: pujian, pelukan, waktu, pelayanan, dan hadiah,” jelasnya.

Kelima baterai tersebut meliputi pujian (kata-kata positif), pelukan (sentuhan fisik), waktu (quality time), pelayanan (dibantu, dirawat), dan hadiah (bentuk perhatian).

Jika baterai ini tidak terpenuhi, anak bisa menunjukkan perilaku negatif.

“Kalau baterai ini tidak diisi, anak bisa melakukan penyimpangan, termasuk tantrum,” tegasnya.

Tantrum Bukan Sekadar Kenakalan

Tantrum sering dianggap sebagai perilaku buruk, padahal bisa jadi itu adalah sinyal kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi.

“Tantrum itu bisa jadi cara anak ‘ngecas’ baterai yang kosong,” ungkap Aisyah Dahlan.

Misalnya kurang pujian → anak teriak, kurang sentuhan → anak mencubit atau agresif, kurang waktu → anak rewel dan mencari perhatian dan lain sebagainya. Oleh karena itu, solusi tantrum bukan sekadar melarang, tetapi memahami akar penyebabnya.

Bahaya Luka Emosi Masa Kecil (Inner Child)

Aisyah Dahlan juga menyinggung tentang dampak jangka panjang dari pola asuh yang salah.

“Luka-luka masa kecil yang tidak diselesaikan akan terbawa sampai dewasa. Itu yang disebut inner child,” jelasnya.

Memori negatif yang terus berulang dapat mempengaruhi kepercayaan diri, emosi, hingga pengambilan keputusan saat dewasa.

Kunci Utama: Orang Tua Harus Mengelola Emosi

Selain memahami anak, orang tua juga harus mampu mengelola emosinya sendiri.

“Kalau sedang marah, jangan langsung menyelesaikan masalah. Ubah posisi, tarik napas, istigfar, baru bicara,” ujar Aisyah Dahlan.

Ia juga menekankan bahwa emosi orang tua sangat memengaruhi anak.

“Kalau ibu tenang, anak bisa tiga kali lebih tenang. Tapi kalau ibu marah, anak bisa tiga kali lebih marah,” tambahnya.

Itulah pentingnya orangtua untuk selalu belajar. Dengan mempelajari neuroparenting diharapkan seluruh orangtua paham bahwa mendidik anak bukan sekadar memberi aturan, tetapi memahami bagaimana otak mereka bekerja. Dengan mengenali potensi bawaan, mengelola emosi, serta memenuhi kebutuhan kasih sayang anak, orang tua dapat membentuk karakter anak secara lebih sehat dan optimal.

Pendekatan ini menjadi pengingat bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki alasan—dan tugas orang tua adalah memahami, bukan sekadar menghakimi. (put)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!