Uncategorized

Rahasia Cara Komunikasi Tepat dengan Anak

Jonggol, Jawa Barat – Komunikasi dengan anak sering kali dianggap berhasil ketika hasilnya terlihat cepat: anak langsung menurut, berhenti menangis, atau mengikuti perintah. Namun menurut Ustaz Bendri Jaisyurrahman, pendekatan seperti itu belum tentu benar. Dalam Islam, komunikasi bukan dimulai dari “efektif”, tetapi dari jujur dan tepat.

Penggiat Parenting Islami dan Konselor Keluarga tersebut menegaskan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar sampai di telinga anak, tetapi harus menyentuh hati. Dan yang menyambungkan hati bukanlah kemampuan berbicara semata, melainkan pertolongan dari Allah.

“Modal dasar komunikasi adalah bertakwa dulu. Karena komunikasi bukan sekedar apa yang kita keluarkan dari lisan, tapi apakah sampai ke hati,” jelas Ustaz Bendri dalam materi yang diberikan di Masjid Darussalam Cibubur, dikutip pada Rabu (29/4/2026).

“Apa yang keluar dari lisan sampai ke hati siapa yang menyambungkan? Allah yang menyambungkan,” sambungnya. 

Maka itulah sebabnya Ustaz yang akrab disapa Ajo bendri tersebut mengingatkan bahwa takwa adalah dasar utama dari komunikasi.

Namun secara rinci, Ustaz Bendri kemudian menjelaskan lima prinsip komunikasi tepat dengan anak yang dijelaskan dalam kajian tersebut. Berikut penjelasannya.

1. Jujur sebagai Pondasi Komunikasi

Ustaz Bendri menjelaskan, prinsip utama dalam komunikasi dengan anak adalah kejujuran. Namun sayangnya banyak orang tua tanpa sadar menggunakan kebohongan kecil demi membuat anak menurut.

“Komunikasi itu enggak boleh efektif dulu. Yang penting jujur. Efektif itu belakangan, jujur dulu. Kalau gara-gara efektif kita bohong, enggak boleh,” jelasnya.

“Kalau ngomong sama anak, jangan ngakal-ngakalin alias nipu, alias bohong. Karena modal dasar komunikasi ke anak itu trust, percaya.” sambungnya.

Ketika anak mulai menyadari kebohongan orang tuanya, kepercayaan akan hilang. Dampaknya tidak terlihat saat ini, tetapi sangat terasa saat anak beranjak remaja—di mana mereka lebih memilih mencari jawaban dari luar.

2. Tepat Sesuai Usia Anak

Kemudian prinsip kedua dalam komunikasi dengan anak menurut Ustaz Bendri adalah lakukan cara sesuai dengan usianya. Sebab, setiap usia memiliki cara komunikasi yang berbeda. 

Anak kecil membutuhkan pendekatan yang atraktif, sementara remaja membutuhkan dialog yang melibatkan logika. Maka sebab itu, Ustaz Bendri mengingatkan kebiasaan orang tua yang terlalu sering menasihati.

“Saya sudah sering banget nasihatin anak saya. Justru sering nasihatin itulah musibahnya, anak bosan,” ujar Ustaz Bendri.

Rasulullah SAW sendiri tidak selalu menasihati secara langsung, terutama kepada remaja. Beliau justru melatih cara berpikir mereka melalui dialog.

3. Tepat Sesuai Jenis Kelamin

Prinsip ketiga yang kemudian diingatkan oleh Ustaz bendri adalah perihal jenis kelamin. Sebab, perbedaan laki-laki dan perempuan juga mempengaruhi cara komunikasi dan keduanya tidak pernah bisa disamakan.

“Laki-laki enggak sama dengan perempuan. Menyamakan laki dan perempuan itu zalim,” tegasnya.

Anak laki-laki cenderung lebih mudah menerima pendekatan logika, sedangkan anak perempuan lebih kuat pada sisi perasaan. Maka dengan memahami perbedaan ini membantu orang tua memilih cara komunikasi yang lebih tepat.

4. Tepat Sesuai Karakter Anak

Ustaz Bendri kemudian menjelaskan bahwa dalam komunikasi dengan anak yang keempat adalah bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Dalam Islam disebut sebagai syakilah, yaitu tabiat atau kecenderungan alami seseorang.

“Manusia itu punya syakilah yang berbeda. Jadi jangan memaksakan anak menjadi sesuatu yang bukan dirinya,” kata Ustaz Bendri.

Ada anak yang lembut, tegas, pemalu, atau aktif. Kesalahan orang tua adalah memaksakan standar yang sama tanpa memahami karakter tersebut. Maka jika ini terjadi, akibatnya, komunikasi justru menjadi konflik, bukan solusi.

5. Tepat Sesuai Bahasa Cinta

Prinsip kelima agar komunikasi efektif adalah tepat sesuai bahasa cinta. Sebab, tidak semua anak merasa dicintai dengan cara yang sama. Ada yang butuh pujian, sentuhan, waktu bersama, bantuan, atau hadiah.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Bendri kemudian memberi contoh nyata bagaimana satu anak bisa kembali ceria hanya dengan kata-kata yang tepat:

“Hanaku sayang, belahan jiwa Abi… kamu tahu enggak betapa besar cinta Abi sama kamu?” ujarnya mencontohkan.

Maka Dari pengalaman itu, ia menegaskan pentingnya memahami bahasa cinta anak.

“Kita itu kadang sudah menunjukkan cinta, tapi enggak nyambung karena kita enggak tahu dia merasa dicintai kalau apa,” jelasnya.

6. Tepat Sesuai Situasi dan Kondisi

Sementara yang terakhir, rahasia cara komunikasi dengan anak menurut Ustaz Bendri adalah waktu dan kondisi. Sebab kedua hal tersebut juga menentukan keberhasilan komunikasi.

Selain itu, cara berbicara menurutnya, juga harus disesuaikan dengan suasana hati anak. Ia mengingatkan jangan sampai salah waktu sebab dampaknya akan luar biasa.

“Kalau lagi sedih, turut simpati dan empati. Jangan orang lagi sedih kita ngajak bercanda,” pesan Ustaz Bendri.

Bahkan dalam keseharian, Ustaz Bendri mengingatkan bahwa Rasulullah SAW membangun suasana positif sejak pagi, bukan dengan tekanan, tetapi dengan interaksi ringan dan menyenangkan.

Itulah rahasia cara komunikasi dengan anak yang diberikan oleh Ustaz Bendri. Dari seluruh penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi dengan anak dalam Islam memiliki dua kunci utama: jujur dan tepat.

Dengan komunikasi yang jujur dan tepat, maka orang tua tidak hanya didengar, tetapi juga dipercaya. Dan kepercayaan inilah yang menjadi bekal terpenting dalam mendampingi anak hingga dewasa. (put)

Tambahkan Teks Tajuk Anda Di Sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!