Uncategorized

Dua Siswa Ukir Sejarah di Munaqosyah Perdana Sekolah Kebun Al-Qalam

Jonggol, Jawa Barat – Ada satu suasana berbeda di lingkungan Sekolah Kebun Al-Qalam. Udara yang biasanya tenang seolah ikut menyimpan harap, menyaksikan langkah kecil yang kelak akan menjadi jejak besar. Dua siswa, dengan mata berbinar dan hati yang penuh tekad, melangkah melewati salah satu fase penting dalam perjalanan mereka bersama Al-Qur’an.

Adalah Arshiya Nahda Qanita Aqish, yang akrab disapa Chiya (kelas 5), dan Muhammad Haidar Rahman, atau Maher (kelas 6), yang telah menorehkan sejarah kecil namun bermakna. Keduanya berhasil menuntaskan munaqosyah Metode Ummi kategori Tahfidz Juz 30—sebuah capaian yang tak hanya membanggakan, tetapi juga menghangatkan hati siapapun yang menyaksikannya.

Lebih dari sekadar kelulusan, momen ini menjadi istimewa karena merupakan munaqosyah perdana yang diikuti oleh siswa Sekolah Kebun Al-Qalam. Sebuah langkah awal yang menandai keseriusan sekolah dalam membangun pendidikan Al-Qur’an yang terarah, terukur, dan berkualitas.

Pendiri Sekolah Kebun Al-Qalam, Endah Supeni, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara penuh syukur, ia menyampaikan apresiasi kepada kedua siswa dan keluarga yang membersamai proses panjang ini.

“Alhamdulillah, senang rasanya pada munaqosyah perdana kategori tahfidz Juz 30, ananda Chiya dan Maher berhasil lulus,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

“Selamat kepada ananda, tim guru Ummi, serta orang tua atas dukungannya. Semoga ilmu dan umur ananda bermanfaat untuk umat. Aamiin ya rabbal ‘alamin,” lanjutnya.

Munaqosyah sendiri bukan sekadar ujian biasa. Ini adalah tahap evaluasi penting dalam metode pembelajaran Al-Qur’an, yang menguji ketepatan bacaan, penerapan tajwid, hingga kelancaran hafalan. Sebuah standar yang memastikan setiap ayat yang dihafal tidak hanya melekat di ingatan, tetapi juga benar dalam pelafalan.

Di balik keberhasilan itu, tersimpan kisah-kisah kecil penuh ketekunan—terutama dari rumah.

Weling Sri Galih Murti, ibunda Chiya, menceritakan perjalanan putrinya dengan nada haru yang tak bisa disembunyikan. Bagi dirinya, ini bukan sekadar capaian, tetapi buah dari proses panjang yang dijalani bersama.

“Alhamdulillah, Masya Allah… akhirnya Chiya bisa melewati ini. Sebagai orang tua jelas senang, bangga, terharu juga,” tuturnya.

Di tengah berbagai aktivitas anak sulungnya itu, Weling mengaku bahwa dirinya mencoba tetap menjaga ritme hafalan dengan cara sederhana namun konsisten.

Kesungguhan Weling dalam mendampingi Chiya hingga membuat jadwal murojaah, mencetak daftar surat dalam bentuk stiker, lalu menempelkannya di Al-Qur’an dan meja belajar Chiya.

“Sambil dia belajar, aku juga ikut belajar,” katanya sambil tersenyum.

Hari-hari mereka dipenuhi pengulangan ayat demi ayat. Dari Al-Ikhlas hingga Al-‘Alaq, dibaca berulang—bahkan menjadi bagian dari bacaan shalat sehari-hari—hingga benar-benar melekat dalam ingatan.

Cerita serupa datang dari Rizky Kusumadewi, ibunda Maher, yang juga seorang guru Ummi. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga hafalan.

“Kami rutin mendampingi Maher menghafal dan menjaganya agar tetap istiqomah,” ungkapnya singkat namun penuh makna.

Keberhasilan Chiya dan Maher bukan hanya milik mereka berdua. Ia adalah hasil dari kolaborasi hangat antara anak, orang tua, dan guru—sebuah ekosistem kecil yang saling menguatkan dalam perjalanan menuju cinta Al-Qur’an.

Bagi Sekolah Kebun Al-Qalam, capaian ini menjadi lebih dari sekadar kebanggaan. Ini adalah awal dari harapan besar: lahirnya generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah pertama telah diambil. Dan dari Jonggol, kisah ini baru saja dimulai.

Barakallah fiikum. Semoga menjadi awal perjalanan panjang dalam menjaga dan menghidupkan Al-Qur’an sepanjang hayat. (put)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!