Tegas, Bukan Galak: Begini Cara Orang Tua Menetapkan Batasan untuk Anak
Jonggol, Jawa Barat – Menjadi orang tua bukan hanya tentang memberikan kasih sayang. Orang tua juga perlu berani membuat batasan, menetapkan aturan, dan memberikan konsekuensi ketika diperlukan.
Namun, bagaimana menetapkan batasan tanpa membuat anak merasa tidak disayangi?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Parenting Al-Qalam #1 yang digelar Sekolah Kebun Al Qalam pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Mengangkat tema “Menjaga Fitrah Anak di Era Digital: Hadir, Melindungi, dan Menjadi Tempat Aman bagi Anak”, kegiatan ini menghadirkan Sirojudin, S.Pd.SD sebagai narasumber.
Salah satu pesan yang ditekankan sederhana:
“Tegas, bukan galak.”
Anak Akan Menguji Batas
Seiring bertambahnya usia, anak akan memiliki lebih banyak keinginan dan mulai menguji batas yang dibuat orang tua. Mulai dari meminta tambahan waktu bermain, ingin mengakses sesuatu yang dilarang, hingga mencoba mencari celah dari aturan yang sudah dibuat.
Menurut Sirojudin, kondisi tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua perlu memiliki aturan yang jelas dan konsisten.
Namun, tegas bukan berarti membentak, mengancam, atau mempermalukan anak.
Anak tetap perlu memahami alasan di balik sebuah aturan, terutama jika berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, dan prinsip keimanan.
Bangun Kesepakatan Keluarga
Dalam pengasuhan, orang tua juga diajak membangun kesepakatan keluarga.
Aturan tidak selalu harus berbentuk “Ayah dan Bunda membuat aturan untuk anak”, tetapi dapat menjadi “kita membuat kesepakatan bersama sebagai keluarga.”
Anak, sesuai usia dan kemampuannya, dapat diajak berdiskusi. Dengan begitu, mereka belajar bahwa aturan bukan hanya tentang larangan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan konsekuensi.
Meski demikian, tidak semua hal dapat dinegosiasikan. Batas yang berkaitan dengan keselamatan dan prinsip keimanan tetap membutuhkan ketegasan orang tua.
Ketika Orang Tua Merasa Tidak Tega
Salah satu tantangan dalam menerapkan aturan adalah rasa bersalah orang tua.
Ketika anak menangis dan berkata, “Ibu tega sama aku?”, orang tua dapat merasa tidak tega dan akhirnya membatalkan konsekuensi yang telah disepakati. Karena itu, orang tua perlu belajar membedakan antara menyayangi anak dan selalu memenuhi keinginan anak.
Terkadang mengatakan “tidak” justru merupakan bentuk kasih sayang.
Konsekuensi yang tidak menyenangkan hari ini dapat menjadi bagian dari proses mempersiapkan anak menghadapi kehidupan ketika orang tua tidak lagi selalu berada di samping mereka.
Orang Tua Juga Terus Belajar
Tidak ada pola pengasuhan yang selalu berjalan sempurna. Orang tua bisa salah, kehilangan kesabaran, kemudian mengevaluasi dan memperbaiki diri.
Begitu pula guru. Pengalaman mendampingi anak tidak berarti seseorang telah selesai belajar memahami anak.
“Pekerjaan menjadi orang tua adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai,” tegas Sirojudin.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau terus belajar. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam Parenting Al-Qalam:
“Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus mau belajar.”
Melalui Parenting Al-Qalam, Sekolah Kebun Al Qalam terus membangun ruang belajar bersama bagi orang tua dan sekolah. Sebab, menetapkan batasan bukan berarti mengurangi kasih sayang. Kadang, ketegasan hari ini adalah cara orang tua mempersiapkan anak agar mampu menjaga dirinya di masa depan.


