Ingin Lindungi Anak dari Paparan Bahaya? Orang Tua Harus Melek Digital
Jonggol, Jawa Barat – Sekolah Kebun Al-Qalam meyakini bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang anak yang belajar. Orang tua dan guru juga harus terus belajar.
Atas dasar keyakinan tersebut, Sekolah Kebun Al-Qalam berkomitmen menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya ditujukan bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dan guru. Salah satunya melalui kegiatan Parenting Al-Qalam yang secara konsisten menjadi bagian dari upaya sekolah membangun kolaborasi antara rumah dan sekolah.
Pada awal tahun ajaran 2026/2027, komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui Parenting Al-Qalam #1 yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Mengangkat tema “Menjaga Fitrah Anak di Era Digital: Hadir, Melindungi, dan Menjadi Tempat Aman bagi Anak”, kegiatan ini menghadirkan Sirojudin, S.Pd.SD sebagai narasumber.
Salah satu perhatian utama dalam parenting kali ini adalah tantangan orang tua dalam mendampingi anak di tengah derasnya perkembangan dunia digital.
Sebab, ketika anak semakin akrab dengan gadget dan internet, orang tua juga perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka.
“Orang tua perlu mengetahui dunia digital yang dimasuki anak,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Sirojudin.
Menurutnya, menjaga anak di era digital bukan hanya tentang membatasi berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi juga memahami apa yang mereka lihat, dengar, mainkan, dan konsumsi melalui perangkat digital.
Orang Tua dan Anak Bisa Hidup dalam Dunia yang Berbeda
Sirojudin mengigatkan, kesibukan orang tua sehari-hari terkadang membuat pendampingan penggunaan gadget menjadi terbatas.
Orang tua mungkin mengetahui bahwa anak sedang bermain ponsel atau tablet, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sedang dilakukan anak di dalamnya.
Game, video, media sosial, anime, komik digital, hingga berbagai komunitas daring dapat menjadi bagian dari keseharian anak. Padahal, tidak semua konten digital sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Dari tontonan tersebut, anak dapat menemukan bahasa, visual, perilaku, maupun interaksi yang belum mampu mereka pahami dengan baik.
“Karena itu, orang tua tidak cukup hanya melarang. Orang tua perlu memahami dunia digital yang menjadi bagian dari kehidupan anak,” pesan Siro, sapaan akrabnya.
“Melek digital bagi orang tua bukan berarti harus menjadi ahli teknologi,” lanjutnya.
Siro juga mengingatkan, bahwa yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, bertanya, mendampingi, dan memahami aktivitas digital anak.
Anak Bukan Orang Dewasa Kecil
Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Namun kemampuan mereka dalam memahami informasi, menilai risiko, serta membedakan mana yang aman dan berbahaya masih berkembang. Dalam kondisi inilah, anak membutuhkan pendampingan orang dewasa.
Ketika anak menemukan sesuatu di internet, persoalannya bukan hanya apakah mereka melihatnya atau tidak. Orang tua juga perlu membantu anak memahami dan memberikan makna terhadap apa yang mereka lihat.
“Anak bukan orang dewasa kecil,” demikian salah satu penekanan dalam pembahasan Parenting Al-Qalam #1.
Karena itu, anak perlu memiliki tempat untuk bertanya. Mereka juga perlu merasa aman untuk bercerita ketika menemukan sesuatu yang membuat bingung, takut, atau tidak nyaman. Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam membangun perlindungan anak di era digital.
Jangan Hanya Bertanya, “Berapa Lama Main HP?”
Siro kemudian mengingatkan, bahwa selama ini, perhatian orang tua umumnya hanya fokus terhadap penggunaan gadget sering berhenti pada pertanyaan:
“Sudah berapa lama main HP?”
Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. seperti:
- Aplikasi apa yang digunakan anak?, game apa yang dimainkan?
- Konten apa yang paling sering ditonton?
- Siapa saja yang berinteraksi dengan anak?
- Apakah anak menggunakan internet tanpa pendampingan?
- Apa yang dilakukan anak ketika menemukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bagian dari audit digital sederhana di rumah. Dengan mengenali aktivitas digital anak, orang tua tidak hanya dapat lebih cepat mengetahui potensi risiko, tetapi juga memahami minat, kebiasaan, dan dunia yang sedang dijalani anak.
Hadir, Melindungi, dan Menjadi Tempat Aman
Perlindungan anak bukan berarti menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Teknologi juga dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, berkomunikasi, dan mengembangkan minat anak. Namun, anak tetap membutuhkan pendampingan.
Orang tua perlu hadir bukan hanya ketika terjadi masalah, tetapi juga dalam keseharian. Maka, ketika anak mengetahui bahwa Ayah dan Bunda mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi, mereka memiliki tempat untuk kembali ketika menghadapi persoalan.
Salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah pentingnya membangun rumah sebagai tempat aman bagi anak untuk bercerita.
Anak perlu tumbuh dengan keyakinan “Aku bisa cerita kepada Ayah dan Bunda.”
Bagi orang tua, kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, kemampuan anak untuk datang dan bercerita kepada orang tuanya ketika menghadapi masalah merupakan bagian penting dari keberhasilan pengasuhan.
Menjaga Fitrah Anak Adalah Amanah
Parenting Al-Qalam #1 menjadi pengingat bahwa pendidikan anak tidak berhenti di ruang kelas. Di era digital, orang tua juga perlu terus belajar agar mampu mendampingi anak menghadapi dunia yang terus berubah.
Menjaga fitrah anak membutuhkan kehadiran, komunikasi, batasan yang sehat, serta kesediaan orang tua untuk terus mengevaluasi diri. Karena itu, parenting bukan sekadar kegiatan tambahan sekolah.
Bagi Sekolah Kebun Al Qalam, parenting merupakan bagian dari komitmen untuk membangun ruang belajar bersama antara anak, orang tua, dan guru. Sebab anak terus berkembang, teknologi terus berubah, dan tantangan pengasuhan pun ikut berubah.
Orang tua dan guru karena itu perlu terus memperbarui pengetahuan dan cara mereka mendampingi anak. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan Parenting Al-Qalam:
“Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus mau belajar.”
Melalui kegiatan parenting, Sekolah Kebun Al Qalam berupaya membangun kolaborasi agar rumah dan sekolah dapat berjalan beriringan dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Karena melindungi anak di era digital bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari bahaya, tetapi memastikan mereka memiliki orang dewasa yang hadir untuk membimbing ketika mereka menemui dunia yang belum mereka pahami. (put)


