Informasi LainnyaUncategorized

Untuk ABK yang sudah mampu berkomunikasi

Komunikasi adalah proses “penyampaian” informasi dari satu pihak ke pihak lain.
Saya beri tanda kutip, karena penyampaian ini adalah point terpenting dari komunikasi itu sendiri. Tanpa ada proses penyampaian di mana pihak kedua tidak menerima apa yang disampaikan oleh pihak pertama, maka komunikasi tidak berjalan.
Saya akan membahas mengenai 2 golongan ABK kita berdasarkan kemampuan komunikasinya.

Pada ABK golongan pertama, saya melihat banyak anak yang sudah bisa bicara namun belum mampu berkomunikasi. Bisa bicaranya acak tanpa makna, dan tidak ditujukan pada siapa pun. Bisa juga echolalia, yaitu mengulang-ulang frasa yang (pernah) didengarnya.

Untuk ini, anak butuh lebih banyak memperoleh latihan berkomunikasi, bukan semata latihan bicara saja. Karena bisa bicara tapi tidak mampu berkomunikasi, ini dapat membentuk perilaku yang emosional, temperamental pada seorang berkebutuhan khusus dewasa. Karena tidak ada yang mampu memahami dirinya sebagaimana yang ia harapkan.

Pada ABK golongan kedua, mampu berkomunikasi dengan baik. Istilah anak muda sekarang, sudah bagus tek-tok nya. Dan kebanyakan dari orangtua yang anaknya sudah berada di tahapan ini, merasa sudah puas dengan pencapaian anaknya. Padahal…”perjalanan” belum usai…!

Mengapa demikian….? Saya menemui beberapa ABK dan RBK (Remaja Berkebutuhan Khusus) yang kemampuan komunikasinya sudah cukup bahkan sangat baik, namun… orangtua lupa mengajari anaknya kesantunan. Sehingga dengan bicaranya, ia terlihat seperti sosok yang kasar, sombong, tidak tahu sopan santun. Bukan hanya di lisan, seringkali bahasa tubuhnya pun mendukung isi bicaranya.
Miris, saya melihatnya…. karena orang yang belum mengenalnya akan menganggapnya sebagai anak yang maaf, kurang ajar, tidak punya etika.

Padahal…itu terjadi karena ABK atau RBK memang memiliki hambatan dalam kemampuan sosialnya. Pada anak dengan disabilitas intelektual seperti autis, asperger, PDD NOS ADHD, ADD, gifted, slow learner, mentally retarded, dan beberapa jenis lainnya, FRONTAL CORTEX (otak bagian depan) yang berfungsi dalam komunikasi dan sosial mengalami gangguan.

Oleh karena itu, kemampuan sosial merupakan hal yang WAJIB dilatih dan dibiasakan pada anak, tanpa ada toleransi…! Karena toleransi yang kebablasan menyebabkan inkonsistensi sehingga ABK kita akan bingung jadinya. Kebingungan seperti ini akan menyebabkan anak semakin sulit dilatih.

Siapa yang tidak suka melihat ABK atau RBK yang santun…?
Maka…jangan baper saat ada orang yang menilai ABK anda tidak sopan atau sebutan negatif lainnya yang bermakna serupa. Segeralah melatih ABK kita untuk menjadi manusia santun yang disukai banyak orang karena perilakunya.

Semangat….!!! 💪💪😊

copas dari Fb Bunda Iin Indriyani

Puji Hartono

-Khairunnas Anfa'uhumlinnas -Prajurit Laut Putra Samudera -Jadikan diri kita sebab atas kebahagiaan orang lain -You Will When You Believe -Tidak ada pilihan lain kecuali berniat baik, berfikir, berucap dan bertindak baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *